Tampilkan postingan dengan label Materi Lapangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Lapangan. Tampilkan semua postingan

PETA KONTUR

PETA KONTUR

Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama di permukaan bumi. Jadi, peta kontur adalah peta yang menyajikan tentang ketinggian tempat di muka bumi. Berikut ini karakteristik garis kontur.
a. Merupakan kurva tertutup dan tidak pernah berpotongan.
b. Selalu bersifat horizontal.
c. Lebih rapat konturnya berarti lerengnya lebih curam.
d. Selalu membelok pada lembah dan mengikuti lereng dari lembah ke arah udik (hulu).
e. Selalu tegak lurus dengan jurusan air yang mengalir di permukaan (misalnya, aliran sungai).
Interpretasi peta kontur memberikan informasi tentang ketinggian tempat, bentuk lereng (apakah berbentuk cekung, cembung, atau seragam), serta juga dapat menunjukkan kemiringan lereng (apakah lereng tersebut landai atau terjal). Selain itu dari peta kontur juga dapat digunakan untuk menentukan inversibility atau daerah yang tampak yang diperoleh dari pembuatan profil atau diagram penampang. Profil atau penampang adalah gambaran kenampakan suatu daerah apabila dipotong secara vertikal oleh bidang tegak lurus terhadap permukaannya. Perhatikanlah contoh berikut!
Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa semakin rapat garis antarkontur, maka kemiringan lereng semakin terjal. Sebaliknya, semakin jarang garis antarkontur, maka kemiringan lereng semakin landai.
a. Bentuk Lereng
Selain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi tentang garis kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan bentuknya, lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung. Lereng dapat pula berbentuk tegak lurus atau tebing, sehingga bila digambarkan menunjukkan garis kontur yang saling berimpit. Berikut ini contoh penggambaran ketiga bentuk lereng tersebut.
b . Bentuk Bukit
Penampang melintang suatu bukit tidaklah sama, ada yang memanjang dan ada yang membulat. Pada gambar berikut terlihat bahwa gambar (a) adalah gambar peta kontur yang menunjukkan bukit memanjang, sedangkan gambar (b) adalah gambar peta kontur yang menunjukkan bukit yang membulat.

c . Cekungan atau Depresi
Cekungan adalah bentuk muka bumi yang lebih rendah dari permukaan bumi di sekelilingnya. Cekungan dapat pula terjadi di puncak bukit atau gunung yang membentuk semacam kaldera luas seperti yang terdapat di Gunung Bromo. Bahkan di beberapa tempat, cekungan atau depresi dapat memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut. Pada peta topografi, cekungan digambarkan dengan garis kontur yang semakin mengecil ke arah dalam, sehingga berlawanan dengan penggambaran gambar sebuah bukit.
kalian suda paham kan

sekarang amati peta berikut




WEBBING (tali jiwa)

WEBBING (tali jiwa)
Kita sering khususnya para pecinta alam / adventur melakukan kegiatan yang membutuhkan tali,tali yang sering digunakan biasanya CARMANTEL,WEBBING,PRUSIK dsb dalam hal ini kami akan membahas tentang webbing

PANJAT TEBING (ROCK CLIMBING)


PANJAT TEBING
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga ataw hobi di alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya . Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o  dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. 
Pada dasarnya  panjat tebing adalah suatu kegiatan yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.

THEKNIK DASAR
 Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut  yang paling utama pemanjat harus  bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.

Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :

  1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan

  1. Friction / Slab Climbing
Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu

  1. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak

Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut:

  1. Jamming
Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak

  1. Chimneying
Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu mendorong serta membantu menahan berat badan.

  1. Bridging
Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.

  1. Lay back
Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.

  1. Hand traverse
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata. 

  1. Mantelself
Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.

Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.

Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :

  1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.
  2. Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan
  3. Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil/memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.
  4. Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti penganman yang dipakai Leader.
  5. Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba pemanjatan
  6. Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.
  7. Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk mengamankan pemenjat berikutnya. 

  atau atau    


Adapun jenis-jenis peralatan yang biasa digunakan untuk panjat tebing adalah :

v     Tali (Karn Mantel)
v     Webbing
v     Carabiner Screw dan Non Screw
v     Piton (pasak tebing)
v     Ascender (alat untuk naik pada tali)
v     Descender (alat untuk turun pada tali)
v     Eterier (tangga tali)
v     Chock Friend
v     Harness
v     Hamer
v     Hand Drill
v     Magnesium
v     Sepatu dan Helm
v     Chock Stopper
v     Chock Hexentrix
v     dll 

 

 

 

Simpul-simpul dasar yang biasa digunakan pada panjat tebing adalah sebagai berikut :

·        Simpul Delapan (figure of eight knot)
·        Simpul Delapan Ganda (double lub figure of eight knot)
·        Simpul Nelayan (fisherman knot)
·        Simpul Perusik
·        Simpul Pangkal (eliver hitch)
·        Simpul Pita
·        Simpul Bowline
·        Simpul Jangkar
·        Simpul Belay (Italian hitch)
·        Simpul Kupu-Kupu
·        dll 

PERLENGKAPAN ADVENTURE

PERLENGKAPAN PERJALANAN
Terdiri dari :
1. Perlengkapan Dasar
2. Perlengkapan Tambahan
3. Perlengkapan Khusus

PERLENGKAPAN DASAR, diantaranya adalah : sepatu, kaos kaki, celana dan pakaian jalan, jas hujan / rain coat, topi lapangan, sarung tangan, ikat pinggang, rucksack / carrier / ransel, kantung tidur / sleeping bag, matras / alas tidur, peralatan navigasi, senter, peluit dan pisau.

Dalam memilih perlengkapan dasar, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1.Sepatu

  • Pilih sepatu yang nyaman, tangguh, dapat melindungi dan cocok dengan aktivitas yang akan dilakukan. Bentuknya harus sesuai dengan ukuran kaki si pemakai. Sepatu yang baik harus menguntungkan bagi si pemakai dan kuat untuk pemakaian medan yang berat
  • Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu yang melindungi alas kaki sampai mata kaki (melindungi sendi dan ujung jari kaki), dapat mencengkram pada permukaan licin dan tangguh di medan bebatuan, berkulit tebal, tidak mudah sobek apabila terkena duri dan bagian dalamnya lunak, serta masih memberikan ruang gerak bagi kaki. Bagian depannya harus keras, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terantuk batu (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang yang pada bagian depannya teramat keras karena memakai besi, selain berat, juga akan merusak jari kaki karena adanya perubahan suhu).
  • Bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, bentuknya biasanya bergerigi dengan dua arah, yang satu arahnya ke depan, berguna untuk memberikan pijakan yang kuat pada medan yang mendaki, yang satunya lagi mengarah ke belakang berguna untuk memberikan pijakan yang kuat pada medan menurun. 
  • Ada lubang ventilasi yang bersekat halus, untuk memberikan nafas pada kulit telapak kaki.
  • Sepatu TNI cukup baik untuk digunakan, tetapi bagian sampingnya harus dimodifikasi dengan membuat semacam ventilasi, diberikan alas tambahan (insoles) berupa nylon tipis yang membuat lapisan udara antara kulit kaki dengan alas sepatu, sehingga sepatu nyaman dipakai tanpa dan tidak menjadi berat saat basah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
  • Lecet, walaupun hanya luka kecil, namun sangat mengganggu perjalanan. Penyebab lecet mungkin karena sepatu yang kita gunakan kurang cocok (terlalu longgar atau sempit), kaos kaki kurang tebal ataupun sepatu yang kita kenakan masih baru dimana kulitnya masih tebal dan keras. Untuk itu peliharalah kaki kita dengan baik, sering-seringlah kita buka sepatu dan kontrol kaki, peliharalah kebersihan kaos kaki (usahakan kaos kaki kita tetap dalam keadaan kering). Yang penting kita harus mengenal sepatu yang akan kita pakai. Sepatu yang kita gunakan akan lebih baik lagi apabila telah sering kita pakai (yang masih laik pakai tentunya).
  • Bersihkan kaos kaki, sepatu dan perlengkapan sepatu kita sesering mungkin.
  • Jangan mengeringkan sepatu pada panas yang ekstrim (misalnya di dekat tungku api atau pada terik sinar matahari).
  • Semirlah sepatu sewaktu-waktu dan olesi dengan semacam grease (minyak semir), agar kulitnya tetap lembut dan benangnya tidak cepat lapuk.
2. Kaos Kaki
Yang harus diperhatikan : kaos kaki harus menyerap keringat.
Kaos kaki berguna untuk :
  • Melindungi kulit kaki dari pergesekkan langsung dengan kulit sepatu atau bagian sepatu yang memungkinkan akan menimbulkan lecet / luka.
  • Menjaga agar telapak kaki tetap dapat bernafas
  • Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah-daerah dingin
Untuk keperluan di atas, bahan kaos kaki sebaiknya terbuat dari katun asli atau katun campuran wool atau bahan sintesis lainnya yang cukup baik. Kaos kaki yang kita bawa harus disesuaikan dengan kebutuhannya, misalnya : tebalnya, panjangnya dan jumlahnya, karena mungkin kita perlu memakai lebih dari satu pasang kaos kaki. Yang paling penting adalah kita harus selalu memakai kaos kaki kering. Dalam setiap perjalanan, dianjurkan untuk selalu membawa kaos kaki cadangan. Untuk perjalanan lama yang menempuh daerah dingin, sebaiknya menggunakan kaos kaki dua lapis, bagian dalam menggunakan kaos kaki dari bahan katun sedangkan bagian luar menggunakan kaos kaki dari bahan wool.

3. Celana Jalan
  • Kuat dan lembut (tidak keras)
  • Ringan
  • Tidak mengganggu gerakan kaki, artinya jahitan cukup longgar
  • Praktis
  • Terbuat dari bahan yang menyekat keringat
  • Mudah kering, apabila basah tidak menambah berat
Untuk keperluan di atas, bahan celana sebaiknya terbuat dari katun yang cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri dan mudah kering. Contoh yang tebaik untuk jenis ini adalah celana PDL (pakaian dinas lapangan) militer atau celana loreng tentara. Bahan dari jeans sangat tidak dianjurkan, karena selain berat dan kaku, juga susah kering apabila basah terkena hujan. Pilihlah celana yang memakai ritsluiting untuk mengurangi kemungkinan pacet masuk.

4. Pakaian Jalan
  • Melindungi tubuh dari kondisi sekitar
  • Kuat
  • Ringan
  • Tidak mengganggu pergerakkan
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Praktis
  • Mudah kering

Pada prinsipnya, pakaian jalan hampir sama dengan celana jalan, hanya yang perlu diperhatikan adalah saku-saku yang ada pada pakaian jalan, tidak mengganggu apabila diisi dan tertekan ransel. Bahannya sebaiknya memakai kain yang terbuat dari katun atau wool, bertangan panjang untuk melindungi kemungkinan tertusuk duri, sengatan matahari maupun binatang berbisa. Seringkali orang mempunyai pemikiran yang salah, misalnya untuk penyusuran pantai mereka memakai pakaian lengan pendek atau baju tanpa lengan, padahal itu tidak baik, karena sinar matahari akan langsung menyengat kulit, sehingga kulit menjadi rusak. Yang perlu diperhatikan lagi adalah pakaian yang kita kenakan harus selalu kering, terutama saat kita akan tidur, untuk itu sangat dianjurkan membawa pakaian cadangan.

5.Jas Hujan / rain coat
Jas hujan yang paling ideal adalah yang tahan air dan angin, tetapi dapat mengeluarkan panas tubuh atau keringat, sehingga nyaman saat memakainya.
 6.Topi Lapangan
  • Melindungi kepala dari kemungkinan cedera akibat duri
  • Melindungi bagian kepala dari curahan hujan, terutama kepala bagian belakang
  • Topi yang akan kita kenakan harus kuat dan tidak mudah sobek

Untuk keperluan di atas, terutama untuk medan gunung hutan sangat dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi jepang (yang menutup telinga dan leher). Topi rimba / topi jepang selain melindungi kepala kita dari kemungkinan cedera akibat duri, juga melindungi bagian belakang kepala kita dari curahan air hujan.
Memakai topi yang terlalu lebar sangat tidak dianjurkan, selain akan menghalangi gerak, juga kurang praktis. Topi jenis koboi cocok jika dipakai di padang rumput atau daerah yang tidak terlalu banyak semak.

7. Sarung Tangan
  • Sebaiknya terbuat dari kulit
  • Bentuknya sesuai dengan tangan kita
  • Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan kita
Untuk medan gunung hutan, sarung tangan berguna melindungi tangan dari kemungkinan tertusuk duri dan dari cedera akibat terkena daun-daun yang berbahaya (daun pulus, dll) atau binatang-binatang kecil yang akan membuat tangan kita gatal. Sarung tangan wool dipilih untuk perlindungan pada cuaca dingin.

8.Ikat Pinggang
Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala tidak terlalu besar tetapi teguh, misalnya dari kulit yang tebal tapi lembut atau dari bahan sintetis lainnya. Kegunaan ikat pinggang selain untuk menjaga celana kita supaya tidak melorot, juga untuk mengaitkan alat-alat yang perlu cepat terjangkau seperti pisau, tempat air minum, tempat P3K, dll.

9. Ransel / Carrier / Rucksacks
  • Ringan, sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan (bayangkan apabila berat ransel kosong kita 8 kg), terbuat dari bahan yang water proof, sehingga kalau hujan tidak bertambah berat, cukup melindungi isi ransel walaupun tetap harus diberikan perlindungan ekstra dengan cara menggunakan kantung-kantung plastik untuk melindungi perlengkapan peka, seperti pakaian tidur, alat tulis, makanan kering, dll.
  • Kuat, harus mampu membawa beban kita dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah sobek, jahitannya tidak mudah lepas, zipper-nya kokoh, dll.
  • Sesuai dengan kebutuhan dan keadaan medan. Untuk medan gunung hutan, tidak dianjurkan memakai ransel dengan frame di luar, selain merepotkan juga menyulitkan kita apabila melewati semak-semak. Ransel dengan frame luar cocok digunakan pada medan-medan yang datar atau medan yang tidak banyak semak-semaknya (seperti salju, padang rumput atau pantai).
  • Nyaman dipakai, diajurkan memakai ransel yang ada frame-nya. Frame ini perlu agar berat beban merata keseluruhan keseimbangan tubuh, frame ini juga membuat nyaman karena adanya ventilasi antara punggung dengan ransel. Bagi ransel yang memakai frame di dalam (internal frame) mungkin perlu ditambahkan bahan yang menyerap keringat di bagian yang bersentuhan dengan punggung. Tali penyandang ransel harus kuat, cukup lebar dan empuk serta mudah di stel, juga ada tali pinggang (hip belt) untuk mengatur supaya ransel menempel dengan baik ke tubuh serta membantu pembagian berat keseimbangan.
  • Praktis, kantung-kantung tambahan atau pembagian ruangnya memudahkan kita mengambil barang-barang tertentu dan mudah di lepas. Sekarang ini banyak sekali jenis ransel dalam berbagai model, ukuran, bahan serta harga yang bervariasi di toko-toko. Ketelitian dalam memilih akan sangat menentukan. Harga yang mahal belum tentu menjamin ransel yang baik, untuk itu pilihlah ransel yang sesuai dengan kriteria di atas. Untuk jenis perjalanan tertentu, ada baiknya kita melengkapi ransel kita dengan kantong tambahan atau daypack, ini untuk memudahkan pergerakan terutama dalam perjalanan. Ketika sedang melakukan penelitian atau sering melakukan perpindahan tempat, daypack sangat membantu kita.
10.Kantung Tidur / Sleeping Bag
Pada malam hari, badan kita akan kehilangan panas tubuh lebih cepat dari panas yang dihasilkan, oleh sebab itu kita perlu dilindungi lapisan yang dapat menahan dingin dan mencegah panas tubuh keluar / hilang, salah satunya adalah dengan menggunakan sleeping bag / kantung tidur.
11.Matras / Alas Tidur,
sangat diperlukan supaya tubuh kita yang sudah terbungkus kantung tidur / sleeping bag, tidak langsung menyentuh tanah.

12.Peralatan Navigasi
Peralatan navigasi ini merupakan peralatan penting yang harus selalu kita bawa, diantaranya adalah : kompas, peta, penggaris segi tiga, busur derajat, pensil, dll.

13.Senter
Apabila kita kemalaman dalam perjalanan, maka senter sangat diperlukan sebagai alat penerangan, tetapi disarankan tidak melakukan perjalanan di malam hari, karena sangat berbahaya. Jangan lupa untuk membawa lampu dan batere cadangan.
14.Peluit
Diperlukan sebagai tanda apabila kita tersesat atau kehilangan arah.
15.Pisau
Pisau dan golok tebas merupakan alat bantu untuk keperluan menusuk, menyayat, memotong, melempar dan yang terpenting sebagai alat bantu untuk membuat api (memotong ranting, memotong kayu tipis-tipis, dll). Ada banyak pisau yang dibuat khusus untuk keperluan tertentu walaupun tetap dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Pisau adalah sahabat yang sangat baik dan berguna bagi pengembaraan. Karena itu pisau yang dibawa harus benar-benar cocok ukurannya, dapat dipercaya dan sesuai dengan keperluan kita.

PERLENGKAPAN TAMBAHAN
Perlengkapan ini walaupun bukan hal penting, namun ada baiknya juga kita membawanya untuk menambah kenyamanan dalam perjalanan kita.
  1. Putis, yaitu pembelat betis yang terbuat dari kain katun / wool. Para pengembara, pejalan kaki, tentara menggunakan putis ini untuk menjaga otot-otot betis agar tetap fit dalam melakukan perjalanan panjang.
  2. Gaiters (Sarung anti pacet), semacam sarung yang biasanya dibuat dari kain tipis, setinggi lutut sebelah atas, ujungnya bertali seperti sarung bantal. Banyak di pakai oleh pekerja kayu / perintis yang banyak melewati daerah rawa-rawa atau hutan basah yang banyak pacet / lintahnya. Sekarang ini sudah banyak gaiters yang di jual di toko-toko, tinggal kita pilih mana yang kita sukai sesuai dengan keuangan kita tentunya.
  3. Kelambu, untuk perjalanan yang banyak melewati rawa-rawa, ada baiknya apabila kita membekali diri kita dengan kelambu untuk menambah kenyamanan perjalanan kita.
  4. Kupluk (balaclava), untuk menambah nyenyak tidur dan terhindar dari gigitan serangga kecil. Untuk daerah dingin (gunung es) fungsinya menjadi penting guna melindungi muka dan telinga dari pengaruh cuaca dingin.
  5. Semir sepatu, terutama bagi pengguna / pemakai sepatu TNI, sebagai pemeliharaan supaya sepatu tetap lemas dan lentur. Tetapi semir sepatu ini bisa diganti dengan campuran minyak kelapa dan bawang merah.
  6. Ikat kepala / kacu segitiga / bandana, kegunaannya sangat banyak, diantaranya bisa untuk menghapus keringat, sebagai tutup kepala atau telinga, dan bisa juga untuk membalut.
Perlengkapan Pribadi lainnya
  • Jarum, benang, kancing dan obat-obatan
  • Tali sepatu cadangan, semir sepatu (bagi sepatu TNI), tali tubuh (webbing)
  • Handuk, sikat gigi, sabun dan celana dalam, dll

Perlengkapan Masak, terdiri dari :
  • Alat masak lapangan (nesting, dll)
  • Alat bantu makanan lainnya (sendok, garpu, dll)
  • Alat pembuat api (lilin, korek api, spirtus, dll)
  • Kantung air / tempat air

PERLENGKAPAN KHUSUS 

       1.  CLIMBING (pemanjatan tebing) :
  • Tali statis / dinamis
  • Harness
  • Helm
  • Carabineers
  • Sling standar dan prusik sling
  • Chock
  • Piton
  • Ascendeur
  • dll
     2.  ORAD (olahraga arus deras) :
  • Perahu 
  • Kano / kayak
  • Perahu karet
  • Dayung
  • Pelampung
  • Helm
  • Tali pengaman
  • Pompa
  • dll

      3.  CAVING (penelusuran gua) :
  • Helm
  • Headlamp / senter
  • Harness
  • Tangga baja / ladder
  • Sepatu karet
  • Carabineer
  • Ascendeur
  • dll

Tindakan Apa Bila Kita Tersesat

TINDAKAN  APA  BILA  KITA TERSESAT
Sering kali kita sebagai pendaki mengalami kehilangan arah /tersesat karena di sebabkan oleh kelelahan/faktor fisik sehingga kurang konsentrasi,faktor alam,dan paling banyak faktor kurang mengertinya sang pendaki tentang materi apa yang ada di alam.
contoh sederhana.........seorang pendaki, mendaki gunung biasanya mengikuti alur jalan/jejek.dan keadaan alam tidak mendukung sehingga konsentrasi berkurang disana ada jalan setapak, dijalan setapak itu ada sebuah persimpangan ada kemungkinan yang anda lakukan:

1.Mengikuti jejak yang masih baru padahal itu bukan jalan para pendaki/jalur asli melainkan jalur masyarakat penduduk yang mencari rumput,kayu bahkan jalan binatang
2.apabila medan berumput biasanya mengikuti arah rumput yang masih baru padahal itu tidak menjamin jalur asli jua karna alasan yang sama. dll
apakah itu yang anda lakukan........kalau anda anak PA pasti tak mau terjerumus kedalam tipuan alam......dan apa yang anda lakukan apabila sudah terlanjur tersesat......pasti kalian bingung........itu pasti.....dan tindakan-tindakan yang tdak kita inginkan terjadi.


ada beberapa tips atau tindakan yang harus anda lakukan diantaranya:
  1. Istirahat rileksasi diri tenangkan pikiran
  2. Apabila waktu tidak mendukung(malam,kabut,dll) jangan memaksa untuk meneruskan perjalanan
  3. Jangam mengambil tindakan yang tak berguna dan membahayakan diri contoh menerobos hutan,menbuat jalur sendiri dll) 
  4. Usahakan kembali ke jalan semula. Apabila anda sudah merasa tersesat, usahakan kembali ke jalan semula (yang sebelumnya anda lewati). Untuk mempermudah apabila melintasi hutan yang belum pernah anda lewati, gunakanlah string text, string line, atau penunjuk arah (pemberi jejak) yang lain yang bisa ditempatkan pada pohon, ranting, atau tanah. Hal ini juga mempermudah penolong dalam mengetahui keberadaan anda. 
  5. Mengikuti jalan di punggungan, jangan di lembah . Apabila anda berada di punggungan akan lebih mudah terlihat oleh orang lain dari pada di lembah. Biasanya jalur pendakian dibuat di punggungan.
anggapan-anggapan yang biasanya para pndaki amatir lakukan bila turun bukit
-mengikuti aliran sungai karna sungan pasti menuju ke pemukiman....itu salah
Jangan mengikuti arah sungai. Karena sungai merupakan sumber kehidupan, dan merupakan tempat minum binatang liar. Disarankan turun ke sungai hanya untuk mengambil air saja
-mengikuti arah lampu bila malam hari....ini apa lagi...jangan mengikuti arah lampu karna kita tidak tau medan di depan kita mungkin tebing jeblok dll
Dari pada kita tersesat lebih baik kemungkinan itu diminimalisir dengan pemahaman medan pendakian serta jalur yang akan dilalui, selalu memperhatikan perubahan cuaca, bawalah perbekalan yang lebih dari cukup  

Beranda Menentukan Arah dan Memilih Lintasan dihutan

Menentukan Arah
Dalam melakukan suatu perjalanan/pendakian gunung tidak jarang seorang pecinta alam/pendaki gunung kehilangan arah. Untuk menentukan arah dapat dilakukan dengan dua kategori, yaitu dengan alat navigasi dan tanpa alat navigasi. Alat-alat navigasi terdiri dari: kompas, altimeter (alat untuk menentukan ketinggian berdasarkan perbedaan tekanan udara), peta, dan GPS (Global Positioning System).


Jika alat-alat tersebut tidak memadai, maka dapat menggunakan tanda-tanda alam atau buatan (tanpa alat navigasi) dalam menentukan arah:
1. Matahari, bulan, bintang: semuanya terbit dari arah timur dan tenggelam di barat.
2. Kuburan Islam: bagian kepala/nisan berada di sebelah utara.
3. Masjid/mushola: arah kiblat
4. Flora dan fauna: tajuk pohon yang lebih lebat biasanya berada di sebelah barat, lumut: semakin ke timur biasanya semakin tebal, tumbuhan pandan hutan biasanya cenderung condong ke arah timur, sarang semut/serangga biasanya terletak di sebelah barat pepohonan.

Memilih Lintasan
Melakukan perjalanan di dataran rendah : Pertama tentukan arah yang dituju, hal ini dimaksudkan untuk menghindari lintasan yang tidak mementu atau berputar-putar di sekitar lokasi. Apabila menghadapi sungai yag besar dan sulit disebrangi maka ikutilah aliran sungai tersebut sebagai pedoman untuk keluar dari daerah survival, karena kemungkinan akan melewati perkampungan penduduk.

Melakukan perjalanan di pegunungan : Tentukan arah dan ikuti punggungan gunung. Jangan berjalan di lembah atau pada aliran sungai, karena sungai di pegunungan cukup curam dan kadang kala membentuk air terjun
 
Jejak
Pada kawasan hutan banyak ditemui jejak yang merupakan tanda yang menunjukkan adanya manusia atau hewan. Bentuk ini perlu diketahui agar dapat membedakan individu yang melintas daerah tersebut. Jejak dapat pula sebagai penunjuk arah pergerakan SURVIVOR.

1. Jejak hewan: Berupa telapak kaki, kotoran dan sibakan tumbuhan, dapat menunjukkan jenis hewan tersebut, ukuran tubuh, habitat, makanan, pola dan tingkah laku. Sehingga dapat diambil tindakan membuat jerat atau menghindari hewan berbahaya.
2. Jejak manusia: Berupa telapak kaki, sepatu atau sandal, sibakan atau patahan tumbuhan, bekas bacokan pada pohon dan sampah...sehingga dapat menunjukkan aktivitas seseorang sebagai pemburu, perambah hutan, penjelajah atau survivor.
3. Membuat jejak: Usaha survivor untuk keluar dari kondisi survival dalam melakukan pergerakan dapat membuat membuat jejak yang jelas agar Tim SAR mudah melacak.

Jejak ini dapat dibuat sesuai dengan alat atau barang yang dibawa atau tanpa alat:
 
1. Menggunakan alat atau barang 
  • Potongan tali yang diikatkan pada batang pohon-pohon dengan jarak tertentu sesuai medan 
  • Tebasan dan bacokan golok atau pisau pada pohon 
  • Sampah, potongan kain dan barang lain terutama yang berwarna mencolok, diletakkan pada jarak tertentu sepanjang jalu yang dilalui
2.Tanpa menggunakan alat
  • Menyibakan atau mematahkan tumbuhan
  • Mencabut dan meletakkan kembali tumbuhan semak yang berwarna mencolok
  • Menyusun batu atau ranting membentuk panah
  • Memperjelas jejak kaki atau sepatu pada tanah gembur

Anjuran Pencinta Alam dan Aktivitasnya

Anjuran  Pencinta Alam dan Aktivitasnya
Kegiatan seorang pecinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pecinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain. Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.



Kegiatan kepecintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya. Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.


Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pecinta alam itu sendiri.

Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, keter yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pecinta alam harus membekali diri. Bekal tersebut berupa:


  1. Mental. Seorang pecinta alam harus tabah menghadapi berbagai kesulitan di alam terbuka tidak mudah putus asa, dan berani. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.
  2. Teknik hidup alam bebas. Meliputi tali temali, PPPK, Metoda komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.
  3. Fisik yang memadai. Karena kegiatan kepecintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pecinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.
  4. Etika. Seorang pecinta alam adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku. Dalam setiap tindakan, seorang pecinta alam diharapkan menghargai kaidah, hukum dan norma masyarakat itu. Demikian sehingga terdapat kode etik pecinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pecinta alam.
  5. Kesadaran konservasi. Dengan memiliki bekal ini, seorang pecinta alam seharusnya sadar bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.
 
 
Etika Berkelana di Rimba Raya

Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman. Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem. Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melakanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai. Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan:
  • Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan
  • Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek
  • Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada
  • Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada
  • Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)
  • Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan
  • Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)
  • Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang
  • Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi
  • Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau
  • Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar
  •  Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik. Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya
 
    Etika dalam Mendaki Gunung


    Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.


    Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.


    Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

    Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

    Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut:
    1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terkahir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum
    2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan
    3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi ijin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang telambat turun
    4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)
    5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat
    6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan
    7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri
    8. Larangan
    Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:
    • Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran. Sebagai gantinya dapat digunakan senter
    • Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian
    • Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat)
    • Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional)
    • Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain
    • Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng). Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah
    • Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon
    • Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam

    Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Dalam kegiatan Alam Bebas

    I. PENDAHULUAN
    Kegiatan Alam Terbuka (KAT) adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan di lokasi yang masih alami baik berupa hutan, perbukitan, pantai dll. Kegiatan di alam terbuka saat ini banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif wisata, kegiatan pendidikan dan bahkan penelitian. Selain untuk tujuan-tujuan tersebut, kegiatan ini juga bermanfaat untuk mengenal Kebesaran Illahi melalui keajaiban alam yang merupakan ciptaan-Nya berupa berbagai keneragaman hayati yang sangat beraneka ragam yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
    Namun dalam pelaksanaanya, kegiatan ini ternyata memiliki resiko yang cukup tinggi. Karena tidak seperti kegiatan wisata lainnya yang didukung oleh fasilitas yang menunjang keselamatan pelaku atau pengunjung, Kegiatan Alam Terbuka justru sangat rentan terjadinya kecelakaan karena memang kegiatan ini dilaksanakan ditempat yang masih alami seperti kondisi perbukitan terjal, jurang, aliran sungai yang deras, dan kondisi alam lainnya yang berpotensi menimbulkan bahaya dan juga mempersulit upaya penyelamatan bagi korban atau penderita.
    Meskipun bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan (accident) memerlukan langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui atau mendiagnosa penyakit maupun akibat kecelakaan, penanganan terhadap korban dan evakuasi korban bila diperlukan. Hal ini memerlukan pengetahuan agar korban tidak mengalami resiko cidera yang lebih besar.

    II. DEFINISI
    Pertolongan Pertama (PP) adalah perawatan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba datang sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Ini berarti:
    1. Pertolongan Pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda.
    2. Pertolongan Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit korban bukan menambah sakit korban.
    III. DASAR-DASAR PERTOLONGAN PERTAMA
    Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Pertolongan Pertama biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan kematian.
    Namun sebelum kita memasuki pembahasan kearah penanggulangan atau pengobatan terhadap luka, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai pencegahan terhadap suatu kecelakaan (accident), terutama dalam kegiatan di alam bebas. Selain itu harus kita garis bawahi bahwa situasi dalam berkegiatan sering memerlukan bukan sekedar pengetahuan kita tentang pengobatan, namun lebih kepada pemahaman kita akan prinsip-prinsip pertolongan terhadap korban. Sekedar contoh, beberapa peralatan yang disebutkan dalam materi ini kemungkinan tidak selalu ada pada setiap kegiatan, aka kita dituntut kreatif dan mampu menguasai setiap keadaan.
    a. Prinsip Dasar
    Adapun prinsip-prinsip dasar dalam menangani suatu keadaan darurat tersebut diantaranya:
    1. Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya.
    2. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota.
    3. Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.
    b. Sistematika Pertolongan Pertama
    Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah :
    1. Jangan Panik
    Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk ditolong.
    2. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.
    Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban. Keuntungan lainnya adalah penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengkonsentrasikan perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Kerugian bila dilakukan secara tergesa-gesa yaitu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban.
    3. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.
    Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan.
          Pendarahan.
    Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang, atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi luka memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh.
    4. Perhatikan tanda-tanda shock.
      Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami cidera di dada dan penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk.
    5. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.
    Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak diusung terlebih dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai. Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau muntahan.
    6. Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.
       Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.

    IV. KASUS-KASUS KECELAKAAN ATAU GANGGUAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA
    Berikut adalah kasus-kasus kecelakaan atau gangguan yang sering terjadi dalam kegiatan di alam terbuka berikut gejala dan penanganannya:
    a. Pingsan (Syncope/collapse) yaitu hilangnya kesadaran sementara karena otak kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), hiploglikemia, animea.
           Gejala
    • Perasaan limbung
    • Pandangan berkunang-kunang
    • Telinga berdenging
    • Nafas tidak teratur
    • Muka pucat
    • Biji mata melebar
    • Lemas
    • Keringat dingin
    • Menguap berlebihan
    • Tak respon (beberapa menit)
    • Denyut nadi lambat
       
      Penanganan
    1. Baringkan korban dalam posisi terlentang
    2. Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung
    3. Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan
    4. Beri udara segar
    5. Periksa kemungkinan cedera lain
    6. Selimuti korban
    7. Korban diistirahatkan beberapa saat
    8. Bila tak segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi stabil >> Rujuk ke instansi kesehatan
    b. Dehidrasi yaitu suatu keadaan dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Hal ini terjadi apabila cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang masuk. Keluarnya cairan ini biasanya disertai dengan elektrolit (K, Na, Cl, Ca). Dehidrasi disebabkan karena kurang minum dan disertai kehilangan cairan/banyak keringat karena udara terlalu panas atau aktivitas yang terlalu berlebihan.
    Gejala dan Tanda Dehidrasi
    Dehidrasi ringan
    • Defisit cairan 5% dari berat badan
    • Penderita merasa haus
    • Denyut nadi lebih dari 90x/menit
    Dehidrasi sedang
    • Defisit cairan antara 5-10% dari berat badan
    • Nadi lebih dari 90x/menit
    • Nadi lemah
    • Sangat haus
    Dehidrasi berat
    • Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan
    • Hipotensi
    • Mata cekung
    • Nadi sangat lemah, sampai tak terasa
    • Kejang-kejang
    Penanganan
      1. Mengganti cairan yang hilang dan mengatasi shock
      2. mengganti elektrolit yang lemah
      3. Mengenal dan mengatasi komplikasi yang ada
      4. Memberantas penyebabnya
      5. Rutinlah minum jangan tunggu haus
    c. Asma yaitu penyempitan/gangguan saluran pernafasan.
         Gejala
    • Sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas
    • Terdengar suara nafas tambahan
    • Otot Bantu nafas terlihat menonjol (dileher)
    • Irama nafas tidak teratur
    • Terjadinya perubahan warna kulit (merah/pucat/kebiruan/sianosis)
    • Kesadaran menurun (gelisah/meracau)
    Penanganan
    1. Tenangkan korban
    2. Bawa ketempat yang luas dan sejuk
    3. Posisikan ½ duduk
    4. Atur nafas
    5. Beri oksigen (bantu) bila diperlukan
    d. Pusing/Vertigo/Nyeri Kepala yaitu sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan, kelaparan, gangguan kesehatan dll.
            Gejala
    • Kepala terasa nyeri/berdenyut
    • Kehilangan keseimbangan tubuh
    • Lemas
    Penanganan
    1. Istirahatkan korban
    2. Beri minuman hangat
    3. beri obat bila perlu
    4. Tangani sesuai penyebab
    e. Maag/Mual yaitu gangguan lambung/saluran pencernaan.
           Gejala
    • Perut terasa nyeri/mual
    • Berkeringat dingin
    • Lemas
    Penanganan
    1. Istirahatkan korban dalam posisi duduk ataupun berbaring sesuai kondisi korban
    2. Beri minuman hangat (teh/kopi)
    3. Jangan beri makan terlalu cepat
    f. Lemah jantung yaitu nyeri jantung yang disebabkan oleh sirkulasi darah kejantung terganggu atau terdapat kerusakan pada jantung.
           Gejala
    • Nyeri di dada
    • Penderita memegangi dada sebelah kiri bawah dan sedikit membungkuk
    • Kadang sampai tidak merespon terhadap suara
    • Denyut nadi tak teraba/lemah
    • Gangguan nafas
    • Mual, muntah, perasaan tidak enak di lambung
    • Kepala terasa ringan
    • Lemas
    • Kulit berubah pucat/kebiruan
    • Keringat berlebihan
    Tidak semua nyeri pada dada adalah sakit jantung. Hal itu bisa terjadi karena gangguan pencernaan, stress, tegang.
    Penanganan
    1. Tenangkan korban
    2. Istirahatkan
    3. Posisi ½ duduk
    4. Buka jalan pernafasan dan atur nafas
    5. Longgarkan pakaian dan barang barang yang mengikat pada badan
    6. Jangan beri makan/minum terlebih dahulu
    7. Jangan biarkan korban sendirian (harus ada orang lain didekatnya)
    g. Histeria yaitu sikap berlebih-lebihan yang dibuat-buat (berteriak, berguling-guling) oleh korban; secara kejiwaan mencari perhatian.
          Gejala
    • Seolah-olah hilang kesadaran
    • Sikapnya berlebihan (meraung-raung, berguling-guling di tanah)
    • Tidak dapat bergerak/berjalan tanpa sebab yang jelas
    Penanganan
    1. Tenangkan korban
    2. Pisahkan dari keramaian
    3. Letakkan di tempat yang tenang
    4. Awasi
    h. Mimisan yaitu pecahnya pembuluh darah di dalam lubang hidung karena suhu ekstrim (terlalu panas/terlalu dingin)/kelelahan/benturan.
           Gejala
    • Dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri
    • Korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang hidung tersumbat oleh darah
    • Kadang disertai pusing
    Penanganan
    1. Bawa korban ke tempat sejuk/nyaman
    2. Tenangkan korban
    3. Korban diminta menunduk sambil menekan cuping hidung
    4. Diminta bernafas lewat mulut
    5. Bersihkan hidung luar dari darah
    6. Buka setiap 5/10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan Pertolongan Pertama
    i. Kram yaitu otot yang mengejang/kontraksi berlebihan.
          Gejala
    • Nyeri pada otot
    • Kadang disertai bengkak
    Penanganan
    1. Istirahatkan
    2. Posisi nyaman
    3. Relaksasi
    4. Pijat berlawanan arah dengan kontraksi
    j. Memar yaitu pendarahan yang terdi di lapisan bawah kulit akibat dari benturan keras.
           Gejala
    • Warna kebiruan/merah pada kulit
    • Nyeri jika di tekan
    • Kadang disertai bengkak
    Penanganan
    1. Kompres dingin
    2. Balut tekan
    3. Tinggikan bagian luka
    k. Keseleo yaitu pergeseran yang terjadi pada persendian biasanya disertai kram.
            Gejala
    • Bengkak
    • Nyeri bila tekan
    • Kebiruan/merah pada derah luka
    • Sendi terkunci
    • Ada perubahan bentuk pada sendi
    Penanganan
    1. Korban diposisikan nyaman
    2. Kompres es/dingin
    3. Balut tekan dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan
    4. Tinggikan bagian tubuh yang luka
    l. Luka yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan/injury.
           Gejala
    • Terbukanya kulit
    • Pendarahan
    • Rasa nyeri
    Penanganan
    1. Bersihkan luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater)
    2. Tutup luka dengan kasa steril/plester
    3. Balut tekan (jika pendarahannya besar)
    4. Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka
    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka:
    1. Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
      • Keluarkan tanpa menyinggung luka
      • Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain berbulu)
      • Evakuasi korban ke pusat kesehatan
    2. Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi.
    m. Pendarahan yaitu keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja. Penghentian darah dengan cara
    1. Tenaga/mekanik, misal menekan, mengikat, menjahit dll
    1. Fisika:
    • Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi pendarahan
    • Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan mengurangi
    1. Kimia: Obat-obatan
    2. Biokimia: vitamin K
    3. Elektrik: diahermik
    n. Patah Tulang/fraktur yaitu rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan maupun sebagian
           Gejala
    • Perubahan bentuk
    • Nyeri bila ditekan dan kaku
    • Bengkak
    • Terdengar/terasa (korban) derikan tulang yang retak/patah
    • Ada memar (jika tertutup)
    • Terjadi pendarahan (jika terbuka)
    Jenisnya
    • Terbuka (terlihat jaringan luka)
    • Tertutup
    Penanganan
    1. Tenangkan korban jika sadar
    Untuk patah tulang tertutup
      1. Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bias digerakan/diangkat)
    Sensasi (respon nyeri)
    Sirkulasi (peredaran darah)
      1. Ukur bidai disisi yang sehat
      2. Pasang kain pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah
      3. Pasang bantalan didaerah patah tulang
      4. Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka
      5. Ikat bidai
      6. Periksa GSS
    Untuk patah tulang terbuka
    1.Buat pembalut cincin untuk menstabilkan posisi tulang yang mencuat
    2.Tutup tulang dengan kasa steril, plastik, pembalut cincin
    3.Ikat dengan ikatan V
    4.Untuk selanjutnya ditangani seperti pada patah tulang tertutup
    Tujuan Pembidaian
    1. Mencegah pergeseran tulang yang patah
    2. Memberikan istirahat pada anggota badan yang patah
    3. Mengurangi rasa sakit
    4. Mempercepat penyembuhan
    o. Luka Bakar yaitu luka yangterjadi akibat sentuhan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api, air panas, listrik, atau zat-zat yang bersifat membakar)
    Penanganan
    1. Matikan api dengan memutuskan suplai oksigen
    2. Perhatikan keadaan umum penderita
    3. Pendinginan
    • Membuka pakaian penderita/korban
    • Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30 menit. Untuk daerah wajah, cukup dikompres air
    1. Mencegah infeksi
      • Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering yang tak dapat melekat pada luka
      • Penderita dikerudungi kain putih
      • Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air seperti mentega, kecap dll
    2. Pemberian sedative/morfin 10 mg im diberikan dalam 24 jam sampai 48 jam pertama
    3. Bila luka bakar luas penderita diKuasakan
    4. Transportasi kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya dilakukan dalam satu jam bila tidak memungkinkan masih bisa dilakukan dalam 24-48 jam pertama dengan pengawasan ketat selama perjalanan.
    5. Khusus untuk luka bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh.
    p. Hipotermia yaitu suhu tubuh menurun karena lingkungan yang dingin
            Gejala
    • Menggigil/gemetar
    • Perasaan melayang
    • Nafas cepat, nadi lambat
    • Pandangan terganggu
    • Reaksi manik mata terhadap rangsangan cahaya lambat
    Penanganan
    1. Bawa korban ketempat hangat
    2. Jaga jalan nafas tetap lancar
    3. Beri minuman hangat dan selimut
    4. Jaga agar tetap sadar
    5. Setelah keluar dari ruangan, diminta banyak bergerak (jika masih kedinginan)
    q. Keracunan makanan atau minuman
           Gejala
    • Mual, muntah
    • Keringat dingin
    • Wajah pucat/kebiruan
    Penanganan
    1. Bawa ke tempat teduh dan segar
    2. Korban diminta muntah
    3. Diberi norit
    4. Istirahatkan
    5. Jangan diberi air minum sampai kondisinya lebih baik
    r. Gigitan binatang gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka biasa.
    Pertolongan Pertamanya adalah:
    • Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan sedikit antiseptik
    • Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut
    Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka, diantaranya:
    1. Gigitan Ular
    Tidak semua ular berbisa, akan tetapi hidup penderita/korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat bisa/racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:
      1. Hematotoksin (keracunan dalam)
      2. Neurotoksin (bisa/racun menyerang sistem saraf)
      3. Histaminik (bisa menyebabkan alergi pada korban)
    Nyeri yang sangat dan pembengkakan dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat penting karena rata-rata penderita biasanya takut mati.
    Penanganan untuk Pertolongan Pertama:
    1. Telentangkan atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung.
    2. Tenangkan penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat
    3. Cegah penyebaran bias penderita dari daerah gigitan
      • Torniquet di bagian proximal daerah gigitan pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet / toniket dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik
      • Letakkan daerah gigitan dari tubuh
      • Berikan kompres es
      • Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu diberikan petidine 50 mg/im untuk menghilangkan rasa nyeri
    4. Perawatan luka
      • Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium atau benda panas
      • Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila ditelan (selama tidak ada luka di mulut).
    5. Bila memungkinkan, berikan suntikan anti bisa (antifenin)
    6. Perbaikan sirkulasi darah
      • Kopi pahit pekat
      • Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv
      • Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor
    7. Obat-obatan lain
      • Ats
      • Toksoid tetanus 1 ml
      • Antibiotic misalnya: PS 4:1
    2. Gigitan Lipan
    Ciri-ciri
    1. Ada sepasang luka bekas gigitan
    2. Sekitar luka bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya setelah 4-5 jam
    Penanganan
    1. Kompres dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik
    2. Beri obat pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik
    3. Gigitan Lintah dan Pacet
    Ciri-ciri
    1. Pembengkakan, gatal dan kemerah-merahan (lintah)
    Penanganan
    1. Lepaskan lintah/pacet dengan bantuan air tembakau/air garam
    2. Bila ada tanda-tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal
    4. Sengatan Lebah/Tawon dan Hewan Penyengat lainnya
    Biasanya sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh korban yang sangat menyakiti.
    Perhatian:
    • Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah sengat-sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping
    • Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan larutan garam inggris.
    V. EVAKUASI KORBAN
    Adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.
    Prinsip Evakuasi
      1. Dilakukan jika mutlak perlu
      2. Menggunakan teknik yang baik dan benar
      3. Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian
    Alat Pengangutan
    Dalam melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu:
    1. Manusia
    Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan.
    Bila satu orang maka penderita dapat:
    • Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak
    • Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah tulang
    • Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas
    • Dipanggul/digendong
    • Merayap posisi miring
    Bila dua orang maka penderita dapat:
    Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung.
    • Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan
    • Model membawa balok
    • Model membawa kereta
    2. Alat bantu
    • Tandu permanen
    • Tandu darurat
    • Kain keras/ponco/jaket lengan panjang
    • Tali/webbing
    Persiapan
    Yang perlu diperhatikan:
    1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan gangguan persendian
    2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi
    3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut
    4. Memilih alat
    5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar
    VI. FARMAKOLOGI
    Farmakologi adalah pengetahuan mengenai obat-obatan. Yang dibahas disini hanya sekedar obat-obatan standar yang sering dibutuhkan dalam Kegiatan Alam Terbuka.
    NO Nama Obat Kegunaan
    1 CTM Alergi, obat tidur
    2 Betadine Antiseptik
    3 Povidone Iodine Antiseptik
    4 Neo Napacyne Asma, sesak nafas
    5 Asma soho Asma,sesak nafas
    6 Konidin Batuk
    7 Oralit Dehidrasi
    8 Entrostop Diare
    9 Demacolin Flu, batuk
    10 Norit Keracunan
    11 Antasida doen Maag
    12 Gestamag Maag
    13 Kina Malaria
    14 Oxycan Memberi tambahan oksigen murni
    15 Damaben Mual
    16 Feminax Nyeri haid
    17 Spasmal Nyeri haid
    18 Counterpain Pegal linu
    19 Alkohol 70% Pembersih luka/antiseptic
    20 Rivanol Pembersih luka/antiseptic
    21 Chloroetil (obat semprot luar) Pengurang rasa sakit
    22 Pendix Pengurang rasa sakit
    23 Antalgin Pengurang rasa sakit, pusing
    24 Paracetamol Penurun panas
    25 Papaverin Sakit perut
    26 Vitamin C Sariawan
    27 Dexametason Sesak nafas
    Sumber : Materi Latihan PP Ospek. KSR PMI Unit UNSOED Purwokerto.2006

    VII. PENUTUP
    Pertolongan Pertama adalah sebagai suatu tindakan antisipatif dalam keadaan darurat namun memiliki dampak yang sangat besar bagi penderita atau korban. Kesalahan diagnosa dan penanganan dapat mendatangkan bahaya yang lebih besar, cacat bahkan kematian. Satu hal yang perlu diingat adalah Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Serahkan penanganan selanjutnya (bila diperlukan) pada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.
    Referensi:
    Diktat:
    Green Corps of English, Materi Pendidikan Dasar, DIII Bahasa Inggris UNSOED, Purwokerto
    Korps Sukarela PMI Unit UNSOED, Materi Latihan PP OSPEK, Purwokerto. 2006
    Pra dan Orientasi Shio Ular XX, Pertolongan Pertama di Alam Terbuka
    Wahyu Handoko, Arianto, Aku Seorang Pecinta Alam, Materi Pendidikan Dasar, Yogyakarta. 1992